Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sabtu, 28 Februari 2015

Akward Moment

Awkward Moment 

Setiap orang pasti pernah mengalami hal seperti ini. Terkadang orang menganggap hal ini sepele, tetapi pada halnya ini bukanlah hal yang sepele. Hal ini dapat menambah pengalaman jika untuk ditulis di dalam buku harian (bagi yang senang menulis memo). Jadi lebih banyaka awkward moment lebih banyak pula pengalaman yang kita miliki. Tidak meunutup kemungkinan bahwa setiap orang bisa melakukan hal ini. Tetapi hal ini tidak selaras dengan jalannya hidup, orang-orang males untuk menulis hal kesehariannya seperti akward moment ini. Selain didasari dengan males juga orang menganggap hal ini sepele dan tidak ada gunanya yang pada dasarnya hal ini justru berguna untuk menambah pengalaman agar tetap dapat diingat hal-hal ini sampai tua.Sehingga kita dapat bernostalgia. 

Tanpa adanya akward moment hidup tidak akan terasa bahagia, karena dengan adanya hal ini kita dapat menertawakannya dan merasakan malunya pada saat itu. Nah hal ini lah yang membuat hidup jadi ramai dan bahagia. 

Terima kasih semoga bermanfaat !  



Minggu, 22 Februari 2015

FUTSAL

FUTSAL

Futsal merupakan salah satu olahraga kesukaan saya, futasal juga merupakan olahraga yang dapat melatih kebersamaan dan solidaritas. Olahraga ini memiliki solidaritas yang sangat tinggi. Olahraga ini banyak digemari oleh lelaki, jadi pada umumnya pemain futsal adalah laki - laki. Futsal merupakan permainan sepak bola juga, tetapi dimainkan dengan personil yang lebih sedikit dan lapangan juga lebih kecil dari lapangan sepak bola.

Sabtu (24 - 1 - 2015) yang lalu gw dan kwn" gw baru pulang les tepatnya di Primagama. Pada waktu itu sudah berencana dari jauh jauh hari untuk bermain futsal bersama dan ditepatkan pada hari itu. Hari itu tiba kami berkumpul setelah pulang les untuk bermain futsal. Kami semua sudah siap untuk main, tetapi tiba" rintik hujan pun turun dengan derasnya. So jadi kami sudah putus asa jika bakal tidak jadi main. Semua kwn" gw sudah putus asa, tapi gw blm putus asa dulu karena gw blm kehabisan ide. Salah satunya cara pada waktu itu adalah dengan berdoa dan kebetulan pada waktu itu gw blm shalat maghrib karena waktu itu masih dalam waktu maghrib. Gw ngajak kwn" gw untuk shalat bagi yg muslim. Selepas shalat gw berdoa "Ya Allah aku mohon hentikanlah hujan ini untuk semetara, karena kami ingin bermain futsal". Selang beberapa menit kemudian hujan pun semakin meredah. Kami pun berangkat ke lapangan yang telah di booking. Sampai di sana semua sudah ganti baju siap untuk main tiba" rintik hujan mulai turun lagi dan kemudian berhenti lagi dan yang pada akhirnya hujan itu tidak datang lagi. Kami membagi team dan bermain dengan senang. Setengah permainan kira" baru berjalan 15 menit, rintik hujan turun lagi. Gw dan kwn" masih asik seru seruan main sampai sampai kami tidak sadar bahwa sekarang sudah hujan. Tetapi itu tidak menghentikan permainan kami. Walau hal itu membuat lapangan menjadi licin tetapi tidk lah masalah bagi kami yang sudah terbawa suasana. Bermain tanpa ada jeda istirahat pun tak apa, kami tidak merasakan pegal ataupun capek sedikitpun mungkin karena terbawa suasana.

Tepat pukul 09.00 kami berhenti bermain karena waktu penyewaan sudah habis. Kami semua pulang dengan motor masing", sementara gw masih menunggu jemputan jadinya gw pulang paling terakhir diantara teman" gw. Waktu gw kembali ke lapangan gw ngeliat ada sendal yg ketinggalan, terus gw bwa ajadeh siapa tau ada yang ketinggalan kan. Setelah ngambil sendal itu gw dijemput dan pulang. Tetapi sebelum pulang kerumah gw diajak sama bpk gw untuk ke sebuah restoran, tetapi gw nggk mau soalnya badan gw bsh kan abis maen hujan - hujanan. Terus ya udh gw langsung pulang aja. Sesampainya di rumah gw langsung mandi ganti baju dan tidur.

Mungkin ini salah satu moment yang juga nggk bakal dapat gw lupakan. Terima kasih semoga ini dapat memotivasi. Bye !!!

Rabu, 18 Februari 2015

Tak Dikenal

Tak Dikenal


Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?"

Sahabat

Karya : Athallah Indrasta


SAHABAT

            Kami adalah dua sahabt yang tak terpisahkan. Satu sekolah sejak SD hingga saat ini duduk di kelas 9. Kami memiliki hobi yang sama. Seperti bermain futsal, basket, berenang dan membaca. Akhir – akhir ini kami jarang bertemukarena suatu hal. Di sinilah cerita itu dimulai.

            Salah satu hobi kami yaitu membaca. Kami sering mampir ke took buku sepulang sekolah. Yang kami lakukan bukanlah membeli buku, melainkan membaca gratis buku – buku yang sudah dibuka pembukusnya. Hal ini tentu saja ada tujuannya. Agar pembeli bias mengetahui isinya dan berminat membelinya. Tapi itu tidak bagi kami, kami benar-benar memalukan. Kami baca buku gratis setelah itu pulang, tidak membelinya. Kami tak mampu karena uang saku kami hanya cukup untuk transportasi dan jatah makan siang.
            
Suatu hari kami di toko buku. Seperti biasa kami berdua, membaca buku secara gratis. Berhari hari kami teruskun satu, dua, tiga dan seterusnya. Hari itu kami penasaran pada sebuah buku. Rasa penasaran kami tersebut membuka karena buku tersebut belum ada yang dilepas pembukusnya.
            Esoknya kami ke tempat biasa. Tanpa disengaja kami bertemu teman lama saat SD. Dia sedang membaca buku yang kami sanghat ingin membacanya kemarin. Entah dia sangat beruntung sekali saat dating bagi ku. Kami yang setiap hari ke took buku tersebut ke dalam membaca buku baru yang temna kami baca. Akhirnya nasib baik sedang bersama kami. Teman kami tersebut tidak ingin membacanya, maka dia menyerahkannya kepada kami. Kami tak sadar kami sedang dibicarakn oleh pramuniaga, decas – decus yang terdengar. Kami membuka buku baru yang masih disegel pembukusnya. Kami ditegur baik – baik oleh pramuniaganya.
            Yah.. kami sangat kecewa pada teman kami itu. Dia belum berubah. Kami terjebak untuk yang kesekian kalinya. Saat SD teman kami itu pernah menjebak kami pada kasus pencurian. Kami tertuduh mencuri jam tangan teman wanita kami padahal bukan kami yang pelakunya.
            Kali ini kami merencanakan sesuatu pada teman kami tersebut. Kami sudah berunding sebelumnya. Rencana kali ini sungguh cemerlang. Kami berharap rencana ini berjalan lancer.
           
Sorenya sepulang sekolah kami benar – benar berjodoh. Kmai bertemu dengannnya di cafĂ© samping took buku tersebut. Kami sedikit memaksa mengajak dia ke took buku itu lagi . Tetapi kali ini tidak untuk membaca buku tapi di lantai 1 ada peralatan sekolah kami sengaja ingin menjebaknya. Saat kami sedang lihat – lihat. Kami ambil salah satu tas yang masih ada bandrol harganya. Kebetulan teman kami itu tidak terlalu memperhatikan tas yang kami bawa. Aku tidak membawa tas saat itu kutinggalkan di mobil, sengaja untuk rencana ini. Hanya sahabat ku yang bawa, kami izin ke WC dan minta seorang jagakan tas yang kami ambil tersebut. Saat di WC kami mengirim pesan bahwa salah satu dari kami sakit perut. Jadi kami menyuruh teman kami itu ke luat toko buku ke apotek terdekat.
            Ketika ia keluar dari pintu toko tersebut tiba – tiba alarm berbunyi, kemudian teman kami tertangkap satpam dan kami lolos mengkambing hitamkan dia. Teman kami yang tertangkap satpam itu diproses dan dipertanyakan oleh satpam – satpam di toko buku tersebut. Di belakang itu kami hanya bias tertawa terbahak – bahak atas keberhasilan rencana itu.
            Setelah kejadian itu keesokan harinya kami bertemu di angkutan umum. Dia berbicara pada kami bahwa dia sangat menyesal karena telah membuat kita terjebak dan yang akhirnya dia pun meminta maaf kepada kami dan ia berjajnji tidak akan mengulangi hal itu lagi.

               
 

Sabtu, 07 Februari 2015

Belum Selesai

DOTA 2

Pertama kali First Blood !!!

Pertama kali gw firstblood adalah saat gw pertama kali main Dota. Dulu gw blm main Dota 2 tetapi Warcraft/Dota 1. Karena kebetulan waktu kelas 7 smp di sekolah ada suatu kompetisi antar kelas gw tertarik ngeliat temen gw maen game itu. Lalu gw minta ajarin kwn gw yg bsa maen game itu. Belajarlah gw dengan kwn gw, sampai pada saatnya gw diajak war saman kwn-kwn gw. Pada waktu itu gw msih ccd/gk bisa. Gw war dengan kwn gw, gw klh terus. Sampai di situ gw nggk mau belajar lagi karena menurut gw gme ini susah.

Kenaikan kelas ke kelas 8.

Waktu kls 8 gw di ajak kwn gw maen DOTA 2. Awalnyasih gw nggk mau maen, dan gw sempet bilang ke kwn gw "dota1 aja nggk bisa apalagi DotA 2. Aneh tapinyata". Trus gw nanya sama kwn gw "emng ada perbedaan anatara DOTA 2 dengan Warcraft" "Iya" jwb kwn gw. "Lalu apa perbedaannya" Tanyaku padanya. "Banyak cok, kyk warkey, warkey item sama skill, abis itu nama item, terus udh lah sgitu aja yang gw tau" jwbnya. "Ohh itu sih gw juga bisa klo gitu" Seruku. "Yaudh besok maen yok" ajaknya. "Ayok" jwb gw. 

Keesokan harinya di warnet 

Gw maen sma kwn" gw. Gw bljr bljr dan terus belajar hingga akhirnya gw ketagihan.
Terima kasih itu sedikit pengalaman tentang gw.


My Story

Dulu


Hala yang bisa saya banggakan dan mungkin nggk bisa dilupakan adalah sewaktu saya SD. Semasa SD ku itu mungkin bisa dibilang pintar dalam hal kademik, tetapi tidak dalam hal emosinal. Saya ingat kelas 5 SD pernah mengikuti olimp IPA dan yang Alhamdulillah saya mendapat juara 1 di tingkat kecamatan. Pada waktu itu seneng banget bisa juara bawa nama sklh. Ini semua berkat bimbingan guru tercinta saya yaitu Bpk Sigit.

Selepas dari itu selang sebulan saya dipanggil lagi untuk ikut olimp lagi, tetapi kali ini tingkat kota. Awalnya sih saya bingung mau ikut nggk ya (jadi semacama dilema gitu) dan yang sampai pada akhirnya saya menerima tawaran ini. Saya belajar dan terus belajar dengan dibimbing oleh guruku. Ditengah perjalanan bimbingan ini sempat putus asa (duh Pak sepertinya saya nggk bisa deh ikut olimpiade kali ini) tetapi guruku tetap saja mendukungku dan membimbingku untuk tetap mengikuti olimp ini. Semua kegiatan di sekolah tertinggal dan saya pun jarang sekali ada di rumah, aku selalu belajar di rumah guruku. Di selang selain belajar saya juga tidak lupa untuk senantiasa shalat dan berdoa, karena hanya ridho-Nya lah saya dapat melakukan hal ini.

Hari tlah tiba, hari tempur itu telah dtng. Saya deg degan dan nggk karuan perasaan saya. Sampai di tempat saya mengerjakan soal itu, saya hanya yakin kepada Allah dan pasrah karena satu satunya usaha terakhir adalah berdoa sebelum mengerjakan. Ketika kertas itu dibagikan tangan ku pun bergetar dan hati pun tak tenang, saya kehilangan konsentrasi pada waktu itu.

Selesai sudah aku mengerjakan saya keluar dari ruangan dengan perasaan yang campur aduk. Sambil menunggu pengumuman saya sembarin berdoa agar saya lah yang menjadi juaranya, juga agar dapat melanjutkan olimp ini ke tingkat provinsi. Sampai akhirnya semua peserta disuruh berbaris membentuk shof. Juara pun mulai disebutkan satu persatu, saya sempat deg degan karena juara disebutkan mulai yang terendah. Akhirnya sampai juga ke juara pertama. Juri menyebutkan "Dan juara pertama adalah dari SDNegeri 5 Talang Athallah Indrasta" Allahuakbar saya pun sujud syukur dan sempat terharu waktu disebutkan nama ku. Di dalam hatiku "memang benar janji Allah tidak bohong" Pada waktu itu aku sempat menangis di pelukan guruku yang berkesempatan hadir pada waktu itu. Kami pulang ke sekolah kami, sampai di sana kawan-kawan ku menyambut dengan perasaan gembira "Selamat ya"

Sebulan kemudian dengan perasaan gelisah guruku memberitahu bahwa, 2 minggu lagi olimp IPA tingkat provinsi akan diselenggarakan. Sesegera mungkin mulai pada hari itu saya belajar dengan dibimbing oleg guru tercinta ku. Pada waktu itu aku Stress dan sakit - sakitan, jadi bimbingan pun tertunda untuk beberapa hari. Setelah saya sembuh, saya melanjutkan bimbingan itu. Baru saja tiga hari berjalan tiba-aku kaget melihat kalender bahwa besok saya sudah pergi bertempur. Pada malamnya saya belajar hingga larut malam untuk mengadapi pertempuran di hari esok.

Hari sudah berganti, aku cepat cepat mandi ganti baju dan pergi ke tempat saya olimp. Ketika samapai di sana sudah apel dan menurut saya saya telat, tetapi yang penting belum masuk ke ruangan. Selesai apel semua peserta boleh beristirahat 5 menit sebelum masuk ke ruangan dan mengerjakan. Dengan waktu 5 menit itu saya membaca lagi sedikit apa yang telah dipelajari.
kring..!!! Bel berbunyi semua peserta masuk ke ruangan, kertas dan soal pun langsung dibagikan.
Sebelum mengerjakan aku berdoa agar saya diberi kemudahan untuk mengerjakan soal tersebut, saya tidak berfikir apa apa lgi selain yang telah dipelajari.
Dalam mengerjakan soal banyak sekali yang saya ragu untuk menjawabnya, jadi ketika saya ingin menjawabnya selalu membaca Bismillah.

Dua jam telah berlalu, saya mengumpul kerjaan saya dan keluar dari ruangan dengan perasaan takut, karena takut banyak yang salah. Samapi pengumuman pun tiba. Suatu ketika saya mendengar pengumuman bahwa, "Yang dapat melanjutkan olimp ini ke tingkat provinsi hanya yang juara satu saja" Dari situ saya mulai tidak yakin dan ngedown, jiak saya pasti tidak akan masuk.
Juara pertama olimp IPA tingkat kota ini adalah dari SD Xaverius (lupa namanya siapa). Dalam olimp kali ini saya hanya disebutkan mendapat juara dua. Perasaan sedih, kecewa, dan sesal pun tercampur karena saya tidak dapat melanjutkannya hingga ke tingkat Nasional dan hanya berakhir di tingkat provinsi. Guruku bilang "Tak apa nak, mungkin kamu belum beruntung. Masih ada kesempatan di lain kompetisi." Jwabku "Iya pak, terima kasih ya Pak telah membimbimngku hingga seperti ini" 

Hal itu lah yang selalu saya ingat dan tak bisa dilupakan. Terima kasih semoga bisa memotovasi para pembaca yang membaca blog saya !!!

Jangan lupa Comment Yahh!!



Jumat, 06 Februari 2015

Pertama kali main DOTA 2

DOTA 2




Hallo !

Saya ini selain fans JKT, saya juga gamers. Salah satu game online yang sekarang sering saya mainkan adalah DOTA 2

DOTA itu adalah game strategy yang mungkin belum tentu semua orang dapat memainkannya. Biasanya yang memainkan game ini adalah orang orang yang senang dengan strategy peperangan. Bagi orang yang belum mengerti dengan game ini mungkin akan sulit dan susah untuk mengerti apa yang ingin dimainkan dari game ini.

Pertama kali saya memainkan game ini di kelas 7 SMP. Awalnya saya sama sekali belum mengerti maksud dari game ini, lalu saya belajar dengan bermain game ini setiap kali ada kesempatan. Saya mencoba terus menerus walau sering kalah, tetapi saya tidak bosan ingin mencobanya dan sampai pada akhirnya saya mengerti dan paham maksud dari game ini. Sampai sekarang pun saya masih memainkan game ini bersama teman teman saya di warnet dekat sekolah maupun di rumah.
Terima kasih semoga anda tergiur untuk mencoba permainan ini.

Jika belum memiliki game ini silakan download game ini di  (http://store.steampowered.com/app/570/?snr=1_7_15__13)
Oh iya ! Sebaiknya sebelum bermain game ini lebih baik bertanya terlebih dahulu dengan teman atau kerabat dekat yang sudah paham tentang game ini.
Terima kasih semoga bermanfaat !.


 
Blogger Templates Read more: http://www.caraseoblogger.com/2013/11/cara-menambahkan-animasi-burung-twitter.html#ixzz3TKjTVRI8